Awal tahun 2018 saya backpackeran ke negeri Tirai Bambu. Saya memilih liburan ke China di musim dingin bukan tanpa alasan. Ada satu alasan kuat yang mendorong saya untuk liburan kesini pada waktu itu, adalah sahabat saya bernama marisa yang berasal dari Jogjakarta.

Awalnya kami berniat backpackeran ke Eropa dan Afrika pada musim gugur tahun ini. Tapi karna musim gugur 2018 nya masih lama, jadi kami memutuskan untuk berlibur ke Hong Kong dan China terlebih dahulu, baru pertama dan tanpa persiapan yang matang jadi wajar kalo liburan kami banyak kejadian yang aneh bin ajaib selama di Hong Kong dan Chinanya hehe.

sahabat saya, marisa. Pasti nih orang cengingisan gue upload potonya ke blog biar terkenal wkwk

Selama 9 hari saya berada di China, saya berkunjung ke 3 kota berbeda dan merupakan kota-kota terbesar di daratan China yaitu Wuhan, Shanghai dan Beijing. Disini saya akan menceritakan pengalaman saya selama berada di Beijing dan kemana saja kami selama di Beijing. Untuk Wuhan dan Shanghai nyusul yaakk di tulisan berikutnya.

 

12 Januari 2018

4 hari di Beijing itu rasanya terlalu singkat untuk bisa menikmati kota ini. Kenapa? Bayangin aja coba kota Beijing itu lebih luas dari kota Jakarta dengan jumlah penduduk 21,6 juta (Maret, 2016). Bagi saya pribadi sih 4 hari itu belum cukup, masih banyak tempat wisata yang belum sempat saya kunjungi. But, it’s ok tetap bersyukur kepada Allah Swt karna telah mengizinkan saya berada di Beijing selama itu.

 

Masjid Niujie

Hari pertama saya berada di Beijing, kebetulan hari itu adalah hari Jum’at. Secara saya muslim jadi hari itu saya bersama temen-temen pergi ke masjid Niujie untuk melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Nama masjid Niujie sebenarnya adalah Libaisi, yang diberikan oleh Kaisar Chenghua pada tahun 1474, karena terletak di Jalan Sapi (Niu artinya sapi dan Jie berarti jalan) sehingga masjid ini disebut masjid Niujie sampai sekarang.

Niujie street, distrik Xicheng, Beijing

Sejak zaman dinasti Qing kawasan ini dulunya merupakan pasar yang sangat terkenal untuk perdagangan daging sapi dan daging kambing hingga saat ini. Kita akan banyak mendapati toko-toko yang berjualan daging di sepanjang jalan dan tentunya kawasan ini mayoritas penduduknya muslim yang berasal dari berbagai suku yang ada di daratan China.

Masjid Niujie tampak dari depan

Di salah satu pintu masuk ke dalam masjid

Bersama Imam masjid Niujie, lupa nama muslimnya -_-

Entah kebetulan, selesai shalat Jum’at saya bertemu sama bapak-bapak dari Indonesia yang sedang dinas ke Beijing. Mereka ada yang dari Jakarta dan beberapa dari Surabaya, satu kantor mungkin beda cabang hehe. Jadi itulah salah satu sisi positif dari backpackeran, kita akan kenal banyak orang! Bagi saya, semakin banyak temen, hidup semakin mudah, ini salah satu dari motto hidup saya.

Ini cewe ngapain coba sendiri -_-

Ketemu sama muslim dari Malaysia, *abaikan kaos kaki gue yaaah

Suasana di dalam masjid, kayaknya ini tempat shalat cwe

Kalo masuk lagi ke dalam kita akan berada di ruang shalat utama masjid

Se boyband-boybandnya kamu, jangan lupa ngaji wkwk

Lagi ngaji. Boyband boleh, asal taat haha

Tolong kasi caption yang tepat buat orang diatas

Masjid Niujie terletak di St. Niujie, distrik Xicheng, Beijing. Buat temen-temen yang mau kesini kita bisa memilih bus dengan nomer jurusan A21 yang tertera di kaca depan bus atau juga bisa menggunakan subway dan turun di Niujie station. Dari Niujie station kita bisa jalan kaki selama 3 menit ke masjid ini.

 

Niujie Moeslem Market

Dari namanya kita sudah tau ini pasar yaa. Masih di hari yang sama, setelah saya selesai shalat Jum’at di masjid Niujie, lalu saya beranjak ke salah satu pasar muslim yang ada di kawasan Niujie, Niujie Moeslem Market atau nama lainnya Niujie Qingzhen Supermarket.

Itu yang di sebrang jalan pasarnya

Di depan pintu masuk pasar

Pasar muslim Niujie ini seperti pasar pada umumnya. Berbagai kebutuhan sehari-hari bisa kita dapatkan di sini. Tapi, yang paling khas dari pasar ini adalah kita bisa menemukan beraneka ragam jenis kue-kue yang enak. Hayoo siapa yang doyan ngemil bisa nih kesini hehe.

Suasana di dalam pasar, bersih yaaa

Pedagang disini rata-rata bisa berbahasa Inggris walau pasif, menurut saya lumayan ramah juga sama pengunjungnya. Dan kita disini dilarang keras mencoba/mencicipi kue nya kayak kita di Indo, ntar dimarahin sama bibi penjualnya huhu.

Ibu-ibu penjual kue, banyak yang masih muda wkwk

Yaaah dicoba yaa, karna halal kok

Selain kue yang menjadi khas dari pasar ini, kita juga bisa mencoba manisan nya China di pasar ini, secara disini halal jadi saya berani mencoba makan manisannya hehe. Bayangin deh musim dingin makan manisan, terasa jeder di lidah. Manisan yang saya coba makan ini terdiri dari beberapa buah yang sudah di manis kan, yang saya tau cuma buah jeruk tuh yang kuning warnanya.

Jangan lihat terlalu lama bang, berat haha

Pasar ini masih satu arah jalan dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari masjid Niujie. Jadi, ga ada salahnya buat kalian untuk singgah disini yaa, paling enggak kalian bisa megang-megang buah jeruk kayak saya diatas wkwk.

 

Temple of Heaven/Tian Tan Buddhis Temple

Tian Tan dalam bahasa Indonesia artinya kuil surga adalah tempat pemujaan agama Khonghucu dan Tao. Bangunan ini merupakan salah satu dari situs warisan dunia UNESCO. Dibangun pada abad 15 M tepatnya dimulai tahun 1420 M pada saat dinasti Ming berkuasa.

Temple of heavennya tepat di belakang saya tuh

Saya bersama temen-temen tiba disini sudah sore hari sekitar pukul 4 . Btw, kebanyakan tempat wisata di Beijing itu tutup sampai pukul 5 sore, nasib deh tinggal sejam lagi buat main disini.

Halaman depan temple of heaven, tempat dimana kita beli tiket masuk

Tiket masuk ke lokasi cuma dibandrol seharga 10 Yuan atau 20 ribu  rupiah. Harga tiket sudah termasuk buat semua lokasi yang ada di Tian Tan ini, jadi ga perlu khawatir kemahalan yaa, masih mahal harga sekali nonton bioskop di tanah air hehe.

Tiket masuk ke TKP

jangan tegang pak, senyum sedikit napa wkwk *btw hampir semua security di China pada pelit senyum

Kalo kalian main ke Beijing, masukkan Temple of Heaven ini kedalam draft itinerary kalian. Karna kuil ini bukan hanya sebagai tempat sejarah yang ada di China, tapi banyak sudut dari kuil ini yang bisa kalian jadikan spot berpoto ria bersama, seperti yang saya lakukan dibawah ini sama marisa.

Kuil ini terletak di 1 Tiantan E Rd, distrik Dongchen Qu, Beijing. Untuk bisa sampai  kesini mudah kok, karna hampir semua tempat wisata di Beijing ini tercover dengan baik oleh subway dan busway kota. Bila kita memilih subway, turun di Yongdingmen east station, lalu kita jalan kaki sejauh 100 meter untuk tiba di gerbang utama dari kuil ini.

 

Wangfujing Street

Ingin bernostalgia suasana China di masa lampau? Disinilah tempatnya, Wangfujing street. Wangfujing street ini lebih tepatnya seperti pasar modern dan banyak merek branded dunia tersedia disini seperti Adidas, H&M, Uniqlo, Nike, Louis Vuitton, Zara dsb. Bisa dikatakan ini adalah salah satu pusat perbelanjaan kelas dunia yang ada di Beijing.

Wangfujing street di malam hari

Banyak souvenir khas dari China bisa kita temui disini dan tentunya dengan harga yang terjangkau. Selain sebagai tempat belanja, banyak kuliner yang bisa kita cicipi disini. Tempatnya romantis deh, di sepanjang jalan dihiasi lampu-lampu kecil yang cukup membuat kita dan pasangan terpesona hehe.

Belanja di salah satu toko souvenir di Wangfujing street

Poto dulu sama chef resto Wangfujing street *tinggi juga nih cewe

 

13 Januari 2018

 

Great Wall of China

Pukul 7 pagi kami semua sudah siap. Bukan perkara mudah keluar jalan-jalan di musim dingin jam 7 pagi loh, dengan suhu rata-rata minus 3 kala itu, syahdu banget ternyata kalo diingat lagi. Kami berjalan kaki ke Dongsishitiao station yang berjarak 1 km dari tempat penginapan kami. Sampai di station saya lupa membawa Yikatong card, ampuuunnn terpaksa saya balik lagi ke penginapan buat ngambil Yikatong yang tak seberapa itu -__- *eh tapi kalo ga ada Yikatong ane ngga bisa kemana-mana haha.

Udah kayak pasangan gue aja nih anak wkwk

Yikatong card adalah kartu transportasi Beijing. Jadi bagi yang ingin liburan di Beijing, jangan lupa membeli kartu ini terlebih dahulu dan tersedia di semua station kota Beijing. *tentang Yikatong card ada pembahasannya di tulisan selanjutnya yaakk

Dari kecil saya sudah tidak asing mendengar nama ini. Hampir di semua buku RPUL kala itu memasukkan nama bangunan ini sebagai salah satu keajaiban di dunia bahkan sampai saat ini. Tembok besar China ini adalah salah satu bukti betapa hebat orang dahulu dalam menciptakan sesuatu, khususnya bangsa China. Maka, wajar Nabi Muhammad SAW dulu menyuruh kita agar menuntut ilmu sampai ke negeri ini.

Dalam perjalanan menuju ke tembok raksasa China

Sesampainya di station (lupa nama stationnya), kami memesan sejenis mobil van. Jujur, saya lebih prefer buat temen-temen untuk memilih mobil van kesana daripada naik kereta, lebih nyaman. Kebetulan bapak supir ini orangnya baik banget, dia bilang bakal nunggu kami sampai selesai main dan siap diantar pulang ke Beijing lagi. Perjalanan dari Beijing ke Tembok Raksasa sekitar 1,5 jam, dijamin ngantuk!

Mobil van sewaan

Volkswagon euyy haha

Di Tembok Raksasa, ada 2 pintu akses masuk yang terkenal di kalangan wisatawan, yaitu Mutianyu dan Badaling. Jika kita ingin cepet dan ngga mau boros napas menaiki tangga tembok, maka Badaling pilihannya. Saya bersama temen memilih Badaling. Yaa karna itu, cuaca lagi dingin banget walau matahari terbit gede banget. Disini nantinya kita diwajibkan untuk membeli tiket masuk dengan harga 40 Yuan.

Buat yang muslim, saran saya kalian bawa roti dan makanan lain soalnya di area ini ga ada restoran yang halal. Luangkan waktu seharian penuh buat main kesini dan poto-poto lah sepuasnya, bisa aja kita cuma sekali doang seumur hidup buat main kesini.

Great Wall of China

Alhamdulillah wa syukurillah :))

 

14 Januari 2018

 

The Forbidden City

The Forbidden City atau Kota Terlarang sering disebut juga dengan Istana Terlarang merupakan istana kerajaan dari dua dinasti terbesar China silam yaitu Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Dikenal sebagai “Museum Istana” membuat bangunan ini sebagai simbol dari kebesaran Tiongkok di masa lalu sampai saat ini. UNESCO memasukkan istana ini dalam situs warisan dunia pada tahun 1987.

Saat itu saya tidak masuk ke dalam istana ini karena antriannya yang cukup panjang dan berhubung hari minggu banyak warga lokal yang memadati kawasan ini, jadi saya sama temen-temen cuma main di depan istana aja hehe. Walau begitu sudah cukup puas untuk menikmati suasana di tengah kota ini.

Dari kiri ke kanan: gue, marisa, kak dian, kak irna, kak lia dan bang denes bong

Forbidden city ini terletak di tengah pusat Beijing. Untuk bisa sampai disini kita bisa menggunakan busway dan subway. Lagi-lagi saya memilih untuk naik subway karna lebih mudah dan kita juga bisa lebih tahu seluk beluk kota ini bila nanti saya harus balik lagi main kesini hehe.

sama orang tua angkat di Beijing. Percaya???

Di sekitaran Forbidden City ini banyak kita jumpai security bersenjata lengkap, jadi jangan lakuin hal-hal aneh deh daripada ntar di samperin sama petugasnya. Di area ini juga tersedia toilet umum dan ga perlu bayar. Oh iya, kebanyakan toilet umum yang ada di China agak jorok, beda dengan Korea dan Jepang dimana toilet umumnya itu bersih kayak toilet dirumah. Saya sempet coba masuk ke toilet umum yang ada di kawasan Forbidden City ini.

Toilet umum tampak dari depan

Suasana dalam toilet. Agak bersih memang karna di pusat kota wkwk

Cara Menuju ke Forbidden City

Subway:

Ambil Subway Line 1, turun di Tiananmen East Station (Exit A) atau Tiananmen West Station (Exit B), kemudian jalan kaki sekitar 5 menit ke gerbang Meridian.

Bus:

Naik bus dengan kode depan 1, 2, 52, 82, 120 atau bus khusus untuk turis Line 2, kita bisa turun di Tiananmen East Station.

 

Tiananmen Square

Tiananmen Square ini merupakan lapangan terbuka yang berada berhadapan langsung dengan Forbidden City. Dulu pada tahun 1989 pernah terjadi demontrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa. Protes ini ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik di negara, hampir sama yang terjadi di negeri kita pada tahun 1998 karena krisis ekonomi yang melanda hampir seluruh negara di asia bagian tenggara saat itu.

Lapangan ini juga sering dilakukan atraksi parade militer China yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Dari sumber yang saya baca, Tiananmen Square juga salah satu lapangan terbesar di dunia loh. Jadi, tidak ada salahnya kalo kita singgah disini bukan?

 

Bird’s Nest Stadium

Terakhir saya merekomendasikan temen-temen untuk berkunjung kesini. Yaaa Bird’s Nest Stadium atau lebih dikenal Olympic Stadium. Stadion ini adalah stadion terbesar yang ada di China dan merupakan tempat dihelatnya pesta akbar Olimpiade pada tahun 2008 silam.

Bird’s Nest Stadium a.k.a Olympic Stadium, Beijing

Stadion ini merupakan stadion nasional rakyat China, sama halnya stadion Utama Gelora Bung Karno kita di Jakarta. Diberi nama Bird’s Nest stadium dikarenakan arsitektur dari bangunan ini yang menyerupai sarang burung dan menjadi salah satu ikon yang dimiliki China.

Salah satu tujuan dibangun stadium ini ialah menunjukkan kepada dunia bahwa China kini sudah menjadi negara maju dan modern, terbukti pada olimpiade tahun 2008 mereka berhasil keluar sebagai juara umum olimpiade saat itu.

Toilet umum di kawasan Bird’s Nest stadium

Di kawasan ini juga terdapat beberapa toko yang menjual souvenir seperti toko yang saya singgah Old Beijing Handicraft. Barang yang dijual sangat unik dan sedikit menguras isi dompet. Tapi jangan khawatir, kita boleh kok nawar harga yang sudah dilabel, seperti halnya yang saya lakukan hehe

Setelah gue berhasil nawar belanjaan, gue minta poto bersama

Setelah seharian keliling Beijing sorenya kami balik ke penginapan untuk persiapan pulang ke Indonesia besok paginya.

Sungguh perjalanan yang sangat berkesan selama 14 hari. Dari Jakarta ke Hongkong, Hongkong ke Shenzen via darat, Shenzen ke Wuhan dimana ada adegan ketinggalan kereta dan dari Wuhan ke Shanghai ditinggal kereta api cepet untuk yang kedua kalinya, oh sangat mellow sekali kalo diingat. Tapi satu hal yang pasti, semua yang sudah kita lalui, ngga akan pernah terulang kembali, jadikan ia sebagai memori dalam hidup yang akan kita kenang di masa tua nanti.

Selamat tinggal Beijing, Saatnya balik ke Hong Kong

Assalamu’alaikum Beijing, Semoga kita dipertemukan kembali.

Iqbal (dokterbackpacker.com)

Life is only once, make it meaningful.

Pin It on Pinterest

Share This