Saya bukanlah seorang penulis cerita terkenal seperti Habiburrahman El-Shirazy, bukan pula seorang penulis komika seperti Raditya Dika. Hanyalah seorang pemula yang berusaha membuat lembaran hidup penuh warna, karena dengan menulis akan mengembalikan serpihan ingatan dari setiap kenangan.

Dari remaja saya adalah seorang penggemar film Korea. Masih teringat jelas film Korea apa yang pertama kali saya tonton saat itu. Tahun 2010 merupakan tahun istimewa bagi saya. Gimana enggak, di tahun itu saya mengenal sederet film Korea terutama film yang berjudul My Sassy Girl (2001). Setiap orang pasti ada minimal satu alasan kenapa ia menyukai negeri ini, entah itu dari budayanya, artisnya, dramanya, begitu juga saya yang suka Korea karna dari filmnya yang sangat inspiratif dan baper barangkali.

My sassy girl (2001)

Waktu kian berlalu. Sampai pertengahan tahun 2016 saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Korea. Kalo memang jadi, ini adalah kali pertama saya kesana. Sejak saat itu saya mulai mencari temen dan mencari tahu segala informasi tentang Korea.

Setiap perjalanan, sangat banyak pelajaran yang dapat saya ambil. Bertemu dengan temen-temen baik itu adalah salah satu rasa syukur saya untuk Allah, Tuhan Maha Semesta.

Perkenalan kami semua bukan hal semata yang disengaja. Hanya saja Allah memperkenalkan kami dengan cara yang sangat sempurna. Kenapa saya katakan “sangat sempurna”? saya sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin dengan saya menulis tulisan ini akan membantu saya untuk menjawab kenapa pertemuan kami “sangat sempurna”.

Yudhi Hardiwantara Azhar / Banda Aceh

Eva Silvani / Jakarta

Malinda Aprillia / Lampung

Oom Rohmawati / Jakarta

 

Musim semi, April 2017…

Bunga-bunga merona penuh pesona di musim itu. Bertabur menghiasi bumi di bawah langit segala penjuru negeri. Menceritakan keindahannya saat itu berarti saya mencoba mengembalikan segala kenangan. Menuliskan cerita ini berarti ada kisah yang mengharukan saat itu. Bunga yang hanya tumbuh sekali dalam setahun ini menjadi saksi perjalanan saya di Korea, Sakura diberi nama.

2 April…

Musim ini adalah musim yang sangat indah bagi kami semua. Kami berada di Korea Selatan selama ± 8 hari dimulai dari tanggal 2 April sampai 10 April 2017. Kami yang sedari awal belum pernah berjumpa, pagi ini kami semua dipertemukan dengan keadaan yang sangat emosional di bandara Soekarno-Hatta.

Terpancar wajah penuh bahagia dari temen-temen semua. “Kita akan ke Korea untuk yang pertama kalinya yaa”, bisik saya. Di terminal 2 tampak maskapai Singapore Airlines itu sudah bersiap-siap membawa kami ke “negeri penuh drama” itu.

Singapore Airlines Boeing B777-300

Transit di bandara Changi, Singapura

Hawa dingin musim semi itu terasa menusuk saat kami tiba di bandara Incheon malam harinya. Oh iya, disini juga kami berkenalan sama Sam, seorang pramugara yang baru tiba dari Tokyo. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami harus segera bergegas pergi dari bandara menuju ke penginapan yang letaknya tidak jauh dari Universitas ternama di Korea, Sungkyunkwan University.

Tiba di bandara Incheon, Korea Selatan

Walaupun dalam perjalanan ke penginapan banyak kejadian nyeleneh, tapi saya yakin temen-temen pasti kangen suasana malam itu.

3 April…

Hari pertama jalan-jalan di Seoul. Banyak agenda yang akan kami tuju hari ini di antaranya ke Bukchon Hanok Village, Gyeongbokgung Palace, Gwanghwamun Square dan Cheonggyecheon Stream.

Bukchon Hanok Village

Hari ini juga merupakan hari pertama kami mencicipi makanan Korea. Ada yang memesan nasi goreng, ramen dan gimbap. Walaupun siang itu kami sudah capek mencari restoran halal di kawasan Bukchon dan hasilnya nihil.

Hari ini waktu terasa cepat banget berjalannya yaa. Mungkin karna kita terlalu asik atau memang waktunya pengen cepet berputar ninggalin kenangan kita semua di istana kerajaan Goryeo tempo dulu.

Gyeongbokgung Palace

Gwanghwamun Square

 

4 April…

Entah kenapa hari ini terasa spesial, mungkin karna kami couple kali yaa. Tanpa direncanakan sebelumnya saat masih di Indonesia. Saya masih ingat kita semua bawa baju atau sweater warna ijo-ijo yaa. Inilah yang dinamakan rencana yang tidak direncanakan. Loh maksudnya? Iyaa, pagi itu kami sepakat untuk pake pakaian serba ijo yang kebetulan kami semua membawanya ke Korea.

Perjalanan kami hari ini adalah ingin melihat cherry blossom atau bunga sakura di sekitaran Yeouido Park. Yeouido park ini merupakan taman bermain di tengah kota Seoul.

Belum jodoh kali yaa hari ini kita belum bisa liat bunga sakuranya. Tapi Allah merencanakan hal lain. Tidak jauh dari Yeouido Park terdapat stasiun televisi penyiaran publik Korea Selatan yang terkenal yaitu KBS (Korean Broadcasting System) yang sering kita liat di pojok kanan layar di setiap drama.

Bersama kru stasiun televisi Korea KBS

Sorenya kami terpaksa berpisah. Saya bersama kak gege dan linda ke Itaewon dan bang yudi bersama kak eva ke Namsan Tower untuk jumpa sama rekan kerjanya kak eva, Hyunwoo Moon.

Sangat menikmati suasana sore hari di Itaewon. Masjid Islamic Center ini menjadi saksi saya bermunajat memohon kepada Rabb untuk segala impian dan harapan. Di Itaewon ini juga saya dan temen-temen pertama kali mencoba makanan “Halal” korean food di salah satu restoran area masjid. Tidak lupa juga kami bertiga singgah di Line Friends.

Line Friends Itaewon

Gimana kabar kak eva dan bang yudi disana? Ah pasti happy tuh jumpa sama temen Korea Mr. Aaaa.

 

5 April…

Langit mendung ngga bersahabat kali ini. Seakan ingin memberi tahu kami bahwa hujan akan turun seharian. Benar saja, tidak lama kami tiba di Namsan Tower hujan pun turun sampai malam hari kami akan berangkat ke Busan.

Langit tidak ingin kami bersedih, Allah mengirimkan hadiah spesial sebagai penggantinya. Hp kak gege dapat notif bahwa Sam ingin ikut kami jalan-jalan. Yaaaa kami hari ini akan ke Namsan Seoul Tower, ikonnya ibu kota Korea.

Kurang puas menikmati Namsan Tower yaa. Hati saya sedikit merasa kecewa saat sam tiba-tiba ngajak ke Lotte World dan sampai disana cuma buat nemenin sam cari coat. Ah ya sudahlah pun waktu sudah berlalu.

Selesai dari Lotte World kami langsung segera balik ke penginapan buat persiapan ke Busan. Ada yang kangen suasana kita malam itu?

6 April…

Busan. Demi apa coba kami ke Busan? Hanya karna ingin melihat sakura. Yaa sakura. Walaupun hujan seharian menemani perjalanan kami selama di Busan. Mungkin hujan juga tau bahwa ini akan menjadi sebuah kenangan buat kami semua. Seandainya hujan ga ada, mungkin kenangannya biasa saja. Saya hanya akan mengambil semua hikmah dibalik setiap cerita, yang pasti kami bahagia.

Menikmati bunga sakura di musim semi, Busan

Cerita lain adalah hilangnya payung-payung kami di Busan ini. Diantara tiga payung hanya satu payung yang tersisa. Kemana payungnya?

7 April…

Hari ini kami berencana ke pasar Namdaemun dan Yeouido Festival Cherry Blossom. Siang itu, di pasar Namdaemun kak gege, linda dan wandi jumpa sama seorang ahjussi. Lagi-lagi perjumpaan mereka itu ngga disengaja dan gimana awal mereka jumpa saya kurang tau. Singkat cerita, mereka memperkenalkan ahjussi ini ke saya, kak eva dan bang yudi.

Jujur, awalnya saya ragu dan takut sama beliau karna beliau ini sangat keterlaluan baiknya. Mungkin karna saya terlalu paranoid (efek keseringan nonton film thriller Korea) barangkali, saya sempet was-was sama beliau. Dengan gaya kesederhanaanya itu, beliau bertanya, “mau kemana kalian, nak?”, kami berencana mau ke Yeouido Park pak, mau liat festival cherry blossom, ujar kami. Ayo ikut saya ajak beliau sembari kami berjalan menelusuri underground kota Seoul.

Ikutlah kami bersama beliau sore itu dan membatalkan agenda kami lihat festival bunga sakura. Hingga akhirnya kami tiba di Hangang River Park yang berada di sepanjang sungai Han yang terkenal di Seoul. Sore itu kami duduk santai, sudah lama saya ngga pernah ngumpul seperti ini sambil menikmati keindahan kota. Beliau lantas bangun pergi membeli air minum, saya ingat betul karna saya yang menemani beliau beli air tersebut.

Awalnya tidak ada kesan yang berarti, tapi entah kenapa dengan sifat keramahan dan kesederhanaan beliau lah yang membuat saya terkesan terlalu mendalam. Bukan orang biasa setelah kami tahu bahwa beliau ternyata direktur di salah satu perusahaan besar di Korea. Beliau bukan ayah kami, tapi seolah sudah menjadi ayah bagi kami dalam waktu singkat sore itu.

 

8 April…

Pagi ini kami kedatangan tamu spesial. Dia adalah Arma Yulisa, temen saya dari Aceh yang sedang melanjutkan master nya di Korea. Arma tiba di penginapan kami pukul 4 pagi. Hari ini kami berencana jalan-jalan ke Nami Island. Seperti biasa kami keluar dari penginapan jam 11 pagi. Di perjalanan menuju Nami, ada kejadian salah turun stasiun yang seharusnya itu turun di Gapyeong station. Yaa begitu, dengan kejadian ini semakin mengingatkan kita akan kejadian di masa itu.

Berharap suatu saat nanti saya bisa kembali lagi kesini untuk mengingat kembali kenangan saat-saat kami bersama, disini. Kalian tau? Kalian adalah kado terindah di bulan April 2017 yang telah berlalu.

9 April…

Happy Milad ke 24 malmal. Itu kata yang terucap dari kami semua untuk salah satu keluarga kami yang kawaii ini.

Hari ini merupakan hari terakhir kami berada di Korea. Langit pagi tampak cerah bersahaja, tapi hati saya seperti merasa kehilangan, mendung tak terkata. Banyak kenangan yang akan kami tinggalkan di negeri cantik ini.

Bunga sakura terus bermekaran seakan ingin memperlihatkan pada kami untuk kembali lagi kesini. Bisakah waktu itu terulang kembali?

Banyak yang harusnya saya cerita disini. Tapi karna waktu yang tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama menulis dan menceritakan secara detail perjalanan kami selama di Korea Selatan.

Hari ini 2 April 2018, tepat setahun yang lalu setelah kami berjumpa. April in my heart ini juga menjadi bukti bahwa kita pernah bersama, melalui hari-hari yang indah bersama.

Sakura di Musim Semi

Sakura bermekaran di musim semi

Menerbangkan keindahan di setiap kenangan

Masih terbayangkan saat-saat bersama

Menorehkan aksara warna warni..

Kenangan itu masih bertasbih di sajadah hati

Meneriakkan do’a untuk sepucuk bahagia

Bersama menjalani hari yang panjang..

Sakura di musim semi

Bisakah kita berjumpa kembali?

Anonim

Jakarta, 2 April 2018

Teuku Muhammad Iqbal

Pin It on Pinterest

Share This