“Allah mengerti hatimu lebih dari yang kamu ketahui. Allah menjangkau pikiranmu lebih dari yang kamu bayangkan. Dan Allah merancang kebahagiaanmu lebih dari rencanamu.”

Mungkin kata-kata di atas belum cukup untuk menjelaskan tentang serangkaian cerita yang akan saya tulis disini sebagai salah seorang relawan medis ACT-MRI dari Banda Aceh (Aceh) untuk membantu saudara-saudara kita korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala provinsi Sulawesi Tengah.

Karna diawali dengan niat yang baik tentu Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik.

Saya berangkat ke Palu harus terlebih dulu transit via Makassar karna waktu itu transportasi udara menuju ke Palu terputus akibat bencana yang terjadi pada tanggal 28 September lalu. Berbekal niat sebagai relawan, saya diberi amanah sebagai dokter tim medis selama dua pekan lebih disana. Tanggal 7 Oktober berangkatlah saya dari Jakarta ke Makassar.

Momen ini terjadi tepat hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2018 tepat dua minggu lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 20.45 WITA. Saya mendapat satu notifikasi panggilan dari cek Din (adik Alm. Ayah) yang di Banda Aceh, Dr. Syarifuddin Hasyim, S.H., M. Hum.

Assalamu’alaikum nyak. Peu Haba? Lon denge drokeuh tengeh di Palu peu beutoi?” ucap beliau pertama. “Waalaikumsalam cek Din. Haba get. Yaa cek Din lon tengeh di Palu ka 4 uroe jeut ke dokter relawan dari ACT-MRI. Peuna hai cek Din?” ujar saya seperti biasa kalo telfonan sama beliau. “Nyan na sodara tanyo disinan bang Novi, di Palu. Aci hubungi gobnyan bah cek Din kirim nomor hp”. Begitulah kira-kira isi pembicaraan telfon antara saya dengan pak cik yang bermaksud ingin memberitahu bahwa saya punya saudara di Palu.

Assalamu’alaikum nak. Apa kabar? Saya dengar kamu sedang di Palu yaa?” ucap beliau pertama. “Waalaikumsalam cek Din. Kabar baik. Yaa cek Din saya sedang di Palu sudah 4 hari sebagai dokter relawan dari ACT-MRI. Ada kabar apa cek Din?” ujar saya seperti biasa kalo telfonan sama beliau. “Itu ada saudara kita disana bang Novi, di Palu. Coba hubungi beliau biar cek Din kirim nomor hp”. Begitulah kira-kira isi pembicaraan telfon antara saya dengan pak cik yang bermaksud ingin memberitahu bahwa saya punya saudara di Palu.

Malam itu setelah cek Din mengirim nomer hp bang Novi, seketika itu juga saya langsung whatsapp beliau dan mengabari yang bahwa saya sedang berada di Palu. Hanya berselang 5 menit beliau membalas pesan saya.

Waalaikumsalam iqbal, iya  barusan abang telp sama pak cik. Apa khabar ini?” chat pun terus berlanjut sampai di akhir beliau berpesan nanti kita ketemuan di Palu. Kebetulan juga saya saat itu berada di Kabupaten Parigi Moutong, sebagai koordinator medis di salah satu posko wilayah ACT-MRI untuk Sulawesi Tengah.

Seketika saya langsung terbayang kenangan saat saya ke Padang tahun 2002 silam. Waktu itu usia saya masih 9 tahun dan masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah. Masih teringat jelas memori indah waktu Ayah mengajak saya dan Ibu beserta adik bungsu ke Padang.

Ngga pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya punya saudara di Sulawesi apalagi di Palu, daerah yang mengalami musibah ini. Jujur, saya mendengar nama “bang Novi” saat berada di Padang waktu itu. Belum pernah jumpa, hanya sekedar tau bahwa beliau ini saudara dari Ayah dan waktu pun terus berlalu.

Senin, 14 Oktober 2018

Allah menguji salah satu hamba-Nya ini. Selang tiga hari setelah saya berkomunikasi dengan beliau, hari Seninnya hp saya padam, hanya layar putih berlogo apel itu masih menyala. Saya panik. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk balik ke Palu keesokan harinya bersama komandan posko. Selama dua hari di Palu, saya hampir putus asa mencari toko ponsel yang bisa benerin hp ini. Karna kondisi masih belum stabil barangkali makanya banyak toko yang masih belum buka.

Saya balik ke Parigi dengan perasaan campur aduk ga karuan banget. Sudah tiga hari hp ga idup. Ibarat lagu mas Anang Separuh Jiwaku Pergi, begitulah perasaan saya saat melihat layar hp ini, Separuh Jiwaku Pergi dari Parigi. *dua hari di Palu saya belum sempat ketemu sama bang Novi.

Jum’at, 19 Oktober 2018

Alhamdulillah hp saya sudah hidup dari segala kekaruan yang mendalam selama 5 hari. Pahlawannya adalah bang alfi ponsel Khatulistiwa yang sudah benerin hp malang ini.

Minggu, 21 Oktober 2018

Tiba waktunya saya kembali ke posko induk ACT-MRI yang berada di jalan Haji Hayyun kota Palu. Jadwal kepulangan saya adalah hari selasa pagi, yang artinya ada waktu satu hari untuk saya bisa jumpa sama bang Novi. Karna tenaga medis (khususnya dokter) kurang, hari Senin esoknya saya tetap beraktifitas memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi warga yang datang berobat atau sekedar berkonsultasi.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Jam tiga sore bang Novi menjemput saya di posko ini. Saya pamit sama temen-temen tim medis yang kece bak superhero, tak terkecuali sama dr. Ridho, M.Sc selaku bos koordinator tim medis ACT-MRI untuk Lombok dan Sulawesi Tengah.

Bang novi langsung mengajak saya ke salah satu warkop populer di Palu yaitu warkop Kemang yang beralamat di jalan Prof. Muhammad Yamin. Yaa ini adalah pertama kalinya saya bertemu beliau. Banyak hal yang kami ceritakan disini. Saya merasa kagum saat tau beliau adalah Kepala SPN Sulawesi Tengah, AKBP. Novia Jaya, S.H.,M.M dan lebih terenyuh lagi setelah tau beliau sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Kabupaten Parigi Moutong, Parigi yang saya tempati selama dua minggu di Sulawesi Tengah. Rencana Allah lebih baik bukan?

Jangan penasaran, yang motoin kami diatas adalah ajudannya beliau abang polisi apa saya lupa namanya. Karna terlalu asik ngobrol kali yaa ngga terasa hari semakin gelap, lalu kami akhiri pembicaraan kekeluargaan kami di warkop ini. Bang Novi mengajak saya main kerumahnya, yaa siapa tau saya balik kesini lagi sama calon istri saya nantinya.

Plat mobil beliau keren. Kenapa? DN 69 NJ. Apa artinya? Beliau lahir tahun 1969 dan NJ adalah singkatan dari Novia Jaya. Itu berarti umur beliau sekarang sudah 49 tahun, tapi ngga seperti berumur 49 yaa, hehe semoga tetap sehat dan panjang umur bang.

Dalam perjalanan pulang balik ke posko, bang Novi cerita bahwa Palu ini juga terkenal akan bawang gorengnya. Lalu beliau mengajak saya untuk singgah di salah satu tempat belanja oleh-oleh khas Palu di Sri Rejeki. “Ini ada oleh-oleh dari abang untuk iqbal dan keluarga di Aceh, Ini harus sampai ke mamak di Banda yaa iqbal” begitu pesan bang Novi ke saya.

Hingga akhirnya di penghujung cerita ini, saya pamit sambil memeluk salah satu saudara saya ini di depan posko relawan ACT-MRI. Alhamdulillah wa syukurillah yaa Rabb. Bukankah Allah Swt telah berjanji dalam firman-Nya bahwa selepas kesulitan itu ada kemudahan? Saya yakin ini adalah buah dari keikhlasan dan kesabaran, terlepas dari semua kejadian yang berlalu yang akan menjadi memori dalam hidup. Kutemukan keluargaku di Palu, setelah musibah ada muhibah.

Iqbal (dokterbackpacker.com)

Life is only once, make it meaningful.

Pin It on Pinterest

Share This