Musim semi April 2017 merupakan salah satu bulan terbaik dalam hidup saya. Kenapaaa? Karena di bulan itu saya ke Korea Selatan bareng temen-temen saya yang super kece dan kawaiii, hehe. Perjalanan selama ± 9 hari di Korea membuat saya susah move on sampai sekarang. Sebegitu susahnya kah melupakan kenangan itu? Ah lupakan saja dulu. Karna akan ada satu tulisan yang akan saya ceritakan nantinya tentang kami, yaaa tentang kami berlima, tapi nanti yaaa menyusul hehe

 

Perjalanan pulang dari Korea Selatan dengan maskapai Singapore Airlines yang terlebih dahulu transit di bandara Changi dan mendarat mulus sehalus-halusnya kasihmu di Soekarno – Hatta Airport terasa sangat singkat, entah karena perjalanan pulang yang memang terasa cepet ataupun memang kaminya yang merasa lelah setelah melancong selama 9 hari di negeri abang boyband  hehe. Sesaat tiba di terminal 2 bandara Soetta saya langsung ngantri untuk cek imigrasi ketibaan bagi yang berpaspor Indonesia.

 

Agak burem soalnya buru-buru, subuh cuyyy hehe

 

Setelah proses pengecekan paspor di keimigrasian saya bersama temen langsung cuuusss ke terminal 3 Ultimate untuk melanjutkan perjalanan pulang saya ke Banda Aceh. Dari terminal 2 saya memilih naik Damri Airport yang memang disediakan pihak bandara untuk keliling dari terminal 1, 2 sampai terminal 3 dan seterusnya ibarat roda yang selalu berputar, wkwk

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Terminal T3 Ultimate Bandara Soekarno – Hatta

 

Tiba di terminal 3 ultimate saya langsung bergegas untuk check-indi counter Garuda Indonesia untuk mendapakan boarding pass. Boarding pass sangat diperlukan untuk setiap calon penumpang sebelum memasuki kabin pesawat nantinya.

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Boarding pass Garuda Indonesia, *abaikan sepatunya yeee

 

Ini loh asiknya kita checkin lebih awal, kita bisa keliling menikmati objek pemandangan terminal 3 ultimate yang katanya terminal ini menyaingi bandara Changi yang berada di Singapura. Dan benar saja seperti yang saya baca dan lihat bahwa terminal 3 ultimate ini telah menjelma menjadi salah satu bandara terbaik di dunia.
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Bandara Soekarno – Hatta mendapat penghargaan dari Skytrax sebagai “The World’s Most Improved Airports” pada tahun 2017. Tak tanggung-tanggung, bandara Soekarno – Hatta mendapat peringkat pertama dari 10 bandara paling berkembang di dunia.
Berikut adalah daftar sepuluh bandara paling berkembang di dunia versi Skytrax:
1.    Soekarno-Hatta, Indonesia
2.    Hamad Doha, Qatar
3.    Houston IAH, Amerika Serikat
4.    Delhi, India
5.    Haikou Meilan, China
6.    Guangzhou, China
7.    Phoenix, Amerika Serikat
8.    Narita Tokyo, Jepang
9.    Paris CDG, Perancis
10.    Los Angeles, Amerika Serikat
Okeee, kembali ke topik utama kita. Tak terasa jam tangan sudah menunjukkan pukul 11.40 wib dan waktunya untuk boarding time. Terdengar panggilan yang ditujukan kepada seluruh penumpang maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA146 tujuan Jakarta – Banda Aceh untuk segera memasuki kabin pesawat.
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Saya sengaja masuk ke kabin sebagai penumpang terakhir (lihat: panggilan terakhir). Banyak alasan yang membuat saya suka molor masuk kabin, salah satunya saya bisa lebih banyak mengambil poto-poto setiap bagian dari pesawat, orang-orang menyebutnya sebagai aviation photographer walaupun saya belum se expert seperti yang lain.
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Asik sih ngambil poto sambil masuk lorong “Belalai Gajah”. Mungkin ada beberapa temen yang belum tau apa maksud dari lorong ini. Belalai Gajah disini bukan belalainya gajah yaa, wkwk tapi itu nama lain dari pengubung antara pesawat dengan gedung terminal bandara.

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Belalai gajah di hutan kali cuyyy 😀

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Kelas Bisnis Garuda Indonesia Boeing B737-800, dan pada tahun 2017 mendapatkan
penghargaan sebagai kelas bisnis maskapai terbaik di dunia versi Skytrax
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Kelas Ekonomi Garuda Indonesia Boeing B737-800, kebetulan ini seat saya 36A, hehe
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Winglet Garuda Indonesia B737-800 yang kece anti-badai, wkwk
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
my fav seat, yeaayyy

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Economy class cabin view of Garuda Indonesia B737-800
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Video keselamatan penerbangan Garuda Indonesia
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Waktunya take-off, tampak pesawat berjejeran nunggu giliran terbang
bubyeee T3 Ultimate, kece pokoknya deh
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Dalam penerbangan ini ada satu kisah yang menarik untuk saya ceritakan. Di tengah perjalanan ada satu accident yang menimpa seorang adik perempuan kecil (saat itu dia mengalami epistaksis­/perdarahan di hidung) yang terjadi tiba-tiba. Lalu dengan tenangnya salah seorang pramugari maskapai langsung menginformasikan kepada seluruh penumpang melalui passenger announcement agar kiranya siapa saja diantara penumpang ada dokter atau tenaga medis untuk segera menjumpai chief cabin crew.
Detik berlalu saya menoleh kedepan samping dan belakang untuk melihat barangkali ada dokter ataupun tenaga medis yang lebih ahli (takut ada dosen saya pulak kan ngga enak melangkahi yang senior, wkwk) dan karena pula pada saat itu status saya belum sah menjadi seorang dokter. Naluri saya tergerak karna tidak ada yang mengambil alih posisi saat itu. Dengan ilmu yang telah saya bekali saat sekolah dulu (terima kasih guruku, melucu) akhirnya saya bangun dari tempat duduk dan langsung menghampiri si adik yang malang itu dan melakukan pertolongan pertama. Singkat cerita perdarahannya berhenti dan si adik diistirahatkan oleh kakak pramugari, Alhamdulillah ucap saya.
Saya kembali ke tempat duduk dan semua mata penumpang tertuju ke saya. “What happen”??? ujar saya dalam hati sambil cengingisan. Ada perasaan malu disana bercampur bangga karna saya telah berani melakukan tindakan walaupun cuma menangani adik perempuan yang mimisan, wkwkwk
Oke, lanjut.

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Flight entertainment on board Garuda Indonesia

 

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Flight meal on board

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
Menu makanan yang saya pilih jatuh kepada nasi daging semur dan jus apel,
ada nata de coco juga 😀 enak bangett, mungkin karna laper kali yaaakk

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia
 
Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Maskapai Bintang 5 Garuda Indonesia

 

Saya sangat bersyukur dan menikmati perjalanan pulang ini. Penerbangan dengan memakan waktu ± 2 jam 50 menit (waktu normal) antara Aceh – Jakarta telah membukakan semangat saya untuk menulis tentang cerita perjalanan kami selama di Koreanantinya (ntar saya publish juga kok). Walaupun saat ini saya belum menyelesaikan tulisan tersebut, tapi saya akan berusaha menyelesaikannya dalam waktu dekat ini.

 Kita bisa menghasilkan uang, tapi kita tidak selalu bisa menciptakan kenangan~

 
Terima kasih Garuda Indonesia, dengan sayap birumu membawa nama Indonesia ke segala penjuru dunia.

Teuku Muhammad Iqbal

Pin It on Pinterest

Share This